Minggu, 06 Oktober 2019

Satu harap




Waktu begitu cepat berlalu, karena memang hakikatnya waktu itu singkat. Banyak hal yang kita tidak tau secara oral dari satu dengan yang lainnya,  namun kita mampu untuk memahami akan suatu kondisi atau suatu keadaan ketika kita mampu untuk melihat apa yang terjadi di sekitar kita. Maka sungguh itu akan menjadi suatu reverensi untuk kita tau semua itu, karena yakin ataupun tak yakin semua ada dalam hati kecilmu tak lain hati yang kecilmu tidak akan berbohong, dunia layaknya fatamorgana yang terkadang kita bingung untuk melihatnya seperti apa yang terjadi.
Asing ataupun tidak asing semua tetap menjadi serangkai bagian dari cerita yang pernah ku untai dalam kehidupan.

Karena apapun yang terjadi dalam hidup ini semua masuk dalam serangkai peristiwa kehidupan seseorang.

Kisah terbaik adalah kisah yang berliku-liku. Cerita terbaik adalah hidup yang berwarna-warni, dan Jika hati senantiasa berniat baik; Allah kan pertemukan dengan hal yang baik, orang-orang baik, tempat yang baik, dan kesempatan berbuat baik.


Lekang oleh waktu

Selasa, 04 Juni 2019

Dalam dekapan Ukhuwah

Matahari tak pernah memilih siapa yang harus diberikan sinar (itulah yang terpikirkan), Seorang teman atau sahabat bahkan kita lebih mengenalnya ukhuwah Fillah, merupakan orang yang sangat penting dalam mengarungi samudera kehidupan dunia ini. Gelombang kehidupan dunia yang terkadang ganas dan menghancurkan segala sesuatu yang dilalui, akan terasa lebih ringan diarungi dengan hadirnya seorang sahabat. Seorang sahabat yang selalu setia membantu, menasehati, dan membimbing perjalanan hidup ini. Hingga berhasil taklukan ganasnya samudera duniawi. Begitupun saat zaman Rasulullah yang menyatukan kaum Anshar dengan Muhajirin dengan ikatan keluarga atau persaudaraan,, dan ada juga Rasulullah mempersaudarakan Ja’far bin Abi Thalib—yang waktu itu ada di Habasyah—dengan Mu’adz bin Jabal, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan Kharijah bin Zaid bin Haritsah,, Umar bin Al Khaththab dengan ‘Itban bin Malik dari Bani Salim,, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dengan Sa’ad bin Muadz saudara Bani Abdil Asyhal,, Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar Rabi’ saudara Bani Al Harits bin Al Khazraj. Dan masih banyak yang Rosulullah menyatukannya dengan tali persaudaraan (ukhuwah islamiyah).
Jika kita mengangkat salah satu ayat dalam bidang ukhuwah, ada salah satu ayat surat Al-Hujurat dapat dijadikan landasan pengamalan konsep ukhuwah  Islamiyah. 
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
 “Sesungguhnya orang-orang Mukmin bersaudara, karena itu lakukanlah ishlah di antara kedua saudaramu.” (QS 49: 10).

Berapa banyak orang yang meninggalkan sahabatnya ketika harta telah tiada. Berapa banyak orang meninggalkan sahabatnya ketika cobaan silih berganti menimpa. Berapa banyak orang yang meninggalkan sahabatnya ketika bertaruh nyawa. Berapa banyak pula orang yang merubah posisi sahabat menjadi musuh hanya karena iming-iming dunia. -wal iyadzubillah
Seorang sahabat sejati akan selalu memberikan dukungan nyata, walau mengorbankan harta dan nyawa. Seorang sahabat sejati tidak akan terpengaruh dengan adanya cobaan yang mendera, walaupun cobaan itu menyakiti jiwa dan raga. Seorang sahabat sejati akan selalu menasehati, di saat kita khilaf dan lupa. Merekalah sahabat sejati yang rela berkorban membela agama, dalam keadaan suka dan duka.

Serangkai ceritamu



Saudariku...
segala puji hanya milik Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa
Tidak ada kehendak yang dapat terwujud, kecuali karena kehendakNya
Begitu juga dengan pertemuan kita
Tak ada yang kebetulan, tak ada yang tidak disengaja
Semua telah terprogram rapi di Lauwh Mahfuz



Saudariku..
Diri ku ini adalah manusia yang lemah
Terkadang benar, terkadang khilaf
Diri ini adalah manusia biasa
Terkadang ingat, terkadang juga lupa


Saudariku...
Diriku ini bukanlah Abu Bakar, yang totalitas dalam persahabatan
Diriku bukanlah Umar, yang kokoh dalam pendirian,, bukanlah Utsman, yang lembut hati dan perangainya,, bukanlah Ali, yang zuhud dalam hidup
Aku  adalah manusia biasa yang sedang belajar
mengikuti jejak hidup dan kepribadian mereka



Saudariku...

Jika kau menemukan kekurangan dalam diriku, janganlah kau menjauh dariku. Tapi tutupilah kekurangan itu dengan kelebihanmu. Jika kau menemukan kelebihan dari diriku, tegurlah aku. Agar tetap istiqomah dan tawadhu. Jika kau menemukan kesalahanku, nasehatilah aku dan jangan berubah karena kau adalah saudariku. Tetaplah menjadi saudariku...



Saudariku...
Indahnya tali ukhuwah yang Allah rangkaikan untuk kita
Tali keimanan yang membuahkan cinta, kasih sayang dan pengorbana
Tali yang mengokohkan ukhuwah islamiyah...



Saudariku...
Sungguh aku ingin merajutnya dengan tali kasih
Layaknya para sahabat Rasulullah yang saling mencintai,
karna kecintaan mereka kepada Allah dan Rasulullah
indah sekali kisah mereka, seperti Muhajirin dan Anshar
Aku berharap kepada Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang,
Agar selalu menjaga keistiqomahan dalam beribadah,
berukhuwah dan hidup dalam naungan Al Quran

.

.

.

Maaf  ......

Bagi hati yang pernah terluka karena lidah yang tajam, bagi hati yang perih karena buruknya laku, bagi perasaan yang hancur karena ego, bagi sikap yang tak diharap,...

Kamis, 11 April 2019

Miliki tekad baja

GENERASI TAJDID MENUJU INTEGRITAS ISLAMI

Sebagai anak muda generasi penerus bangsa bahkan dunia sekalipun, yang akan menjadi akar yang kokoh dengan menanamkan gelora semangat pembaharuan demi pembaharuan yang memupuknya dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Azza wa zalla . 
Pemuda merupakan suatu potensi yang hebat sebagai armada kemajuan bangsa, negara, bahkan dunia, maka perannya sangatlah penting untuk perubahan ini, saat era globalisasi semakin kuat mencengkram generasi- generasi muda ini, jika kita tidak pandai untuk menghindar dari kecohan yang membodohkan generasi islam ini maka lenyaplah sudah generasi islam ini.
Maka kita harus mengasah semangat dalam hati dan jiwa raga kita untuk selalu bergemuruh dalam kebaikan atau amar makruf nahi munkar, sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya QS Ali Imraan ayat 104 yang artinya :
“ Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung”. (QS Al-imraan : 104).

Maka sungguh beruntung orang- orang yang memperjuangkan amar ma’ruf nahi munkar di muka bumi Allah ini, maka dari itu kita harus masuk kedalam golongan orang- orang yang beruntung, karena jalan yang terbaik untuk bersatu dalam kebenaran di bawah naungan al-Qur’an dan RasulNya, adalah dengan menjadi umat yang menyerukan segala bentuk kebaikan dunia dan akhirat, menyerukan kewajiban mendorong manusia kepada kebaikan Bersama dan mencegah kejahatan (amar makruf nahi munkar, al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar). Meraka yang melakukan prinsip itu adalah orang-orang yang memperoleh keberuntungan yang sempurna.
Kita sebagai generasi muda harus bisa menjadi pemimpin masa depan, harus menjadi generasi yang memiliki pemikiran yang cakupannya luas dalam persepsi islam yang kedepannya kita mampu menjadi pemimpin dunia yang menegakan kebenaran di atas ke tidak benaran, tidak sedikit remaja di era globalisasi ini terombang- ambing dengan arus dari factor internal ataupun eksternal salah satunya arus hedonis dan permisif, dimana pandangan hidup yang menganggap orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan- perasaan yang menyakitkan, sehingga tujuan yang utama dalam pikirannya adalah kenikmatan yang tidak di dasari dengan keridhoan Allah azza wa zalla, dan lagi banyak contoh pergaulan kekinian anak muda di era globalisasi ini yang malah kebablasan, mereka lebih bangga dengan idola- idola yang tak ada gunanya seperti artis- artis drama korea, sehingga generasi muda tidak lagi semangat dalam kebaikan yang di dasarkan aqidah  karena banyak dari mereka yang loyo dengan dunia kebaperannya.
Pergaulan bebas di mana- mana, minuman keras menjadi konsumsi yang lumrah untuk di minum, banyak pergaulan yang menyesatkan, zina dimana- mana, sehingga generasi muda menjadi rusak karena polah tingkah yang tidak terjaga. Dari kebebasan mereka bergaul tanpa mereka perhatikan dampak negatifnya karena yang menjadi tujuan mereka saat dirinya di ombang ambing dengan kerasnya pergaulan di era globalisasi ini, cukup untuk mereka hanyalah kesenangan semata yang tak ada nilai abadi.
Maka  dari itu kita harus menciptakan pemuda pemuda generasi umat dan bangsa mulai saat ini, banyak sejarah yang mencatat tentang keberhasilan generasi muda  diantaranya.
Dalam sejarah kita mengenal pemuda Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya.

Karakteristik pemuda yang digambarkan itu adalah;
• Pemuda yang selalu menyeru kepada alhaq (kebenaran)
”Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (QS Al-A’raf [7]: 181).
• Mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka
”Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada manusia yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Maidah [5]: 54).
• Mereka saling melindungi dan saling mengingatkan satu sama lain serta taat menjalankan ajaran agama
”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah [9]: 71).
• Mereka adalah pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Allah berfirman, ”(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS Ar-Ra’d [13]: 20).
• Mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban dengan jiwa dan harta mereka untuk kepentingan Islam. ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al-Hujurat [49]: 15).
• Pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah dan hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassallam bersabda, ”Ada tujuh (7) golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, (yaitu): pemimpin yang adil, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah, orang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, orang laki-laki yang senantiasa mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya) dalam keseharian sampai air matanya mengalirkan, orang laki-laki yang diajak seorang wanita yang mulia lagi cantik lalu ia berkata, ”Aku takut kepada Allah yang menguasai seluruh alam”, dan orang laki-laki yang bersedekah dan menyembunyikan (amal) sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Melalui para pemuda dengan karakteristiknya yang dipaparkan di atas, Islam berhasil menyingkirkan segala macam bentuk kekuatan kedzaliman. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan dengan memberikan perhatian, bimbingan, dan kesempatan untuk berkiprah kepada para pemuda bangsa ini akan mampu bangkit kembali.
Kita sebagai generasi muda bangsa dan agama kita harus azamkan atau kuatkan niat kita hanya mencari keridhoan Allah azza wa zalla, puncak tertinggi orientasi hidup kita hanyalah mencari keridhoan-Nya. Kita sebagai pemuda dimana kekuatan masih terkumpul banyak energi masihlah kuat bagai baja, maka malulah kit ajika hidup kita hanya di hiasi dengan keindahan semata dan sementara. Dimana masa muda itu kita baluti dengan kemaksiatan, foya-foya, mabuk- mabukan, dan lain sebagainya. Sungguh waktu yang Allah berikan kepada kita itu hanyalah sia-sia tanpa nilai baik yang terkandung.
Coba bayangkan, kalaulah masa muda itu kita isi dan baluti dengan nilai- nilai baik dan maslahat, maka sungguh indah masa muda itu. Misalnya kita isi dengan kajian-kajian kerohanian, kita isi dengan amar ma’ruf nahi munkar, membaca Al- Quran, membaca buku yang bermanfaat, bahkan banyak sekali hal-hal positive yang lebih berfaidah dan manfaat untuk diri kita pribadi khususnya atau bahkan orang lain.

Kalaulah di dunia ini hanya ada 1.000.000 (satu juta) orang yang memperjuangkan kebaikan, niatkan dalam hati dan yakinkan “satu dari sejuta orang itu salah satunya adalah saya”,

Kalaulah di dunia ini hanya ada 100.000 (serratus ribu) orang yang memperjuangkan kebaikan, niatkan dalam hati dan yakinkan “satu dari serratus ribu itu salah satunya adalah saya”,

Kalaulah di dunia ini hanya ada 10.000 (sepuluh ribu) orang yang memperjuangkan kebaikan, niatkan dalam hati dan yakinkan “satu dari sepuluh ribu itu salah satunya adalah saya”,

Kalaulah di dunia ini hanya ada 1000 (seribu) orang yang memperjuangkan kebaikan, niatkan dalam  hati dan yakinkan “satu dari seribu itu salah satunya adalah saya”,

Kalulah di dunia ini hanya ada 100 (serratus) orang yang memperjuangkan kebaikan, niatkan dalam hati dan yakinkan “satu dari seratus itu salah satunya adalah saya”,

Kalaulah di dunia ini hanya ada 10 (sepuluh) orang yang memperjuangkan kebaikan, niatkan dan yakinkan “satu diantara sepuluh orang itu salah satunya adalah saya”

Bahkan kalaulah di dunia ini hanya 1 (satu) orang yang akan memperjuangkan kebaikan, maka “yakinkan dalam hati satu satunya orang itu adalah saya sendiri”.
Kita di dunia hanyalah sementara, yang abadi adalah akhirat, karena perjalanan hidup kita itu masihlah amat Panjang, jangan sampai penyesalan itu kita rasakan namun kita harus membenahi diri dan mempersiapkan diri kita agar jauh lebih baik dan bermanfaat, menjadi tugas seorang khalifah atau pemimpin itu bukan hanya kewajiban Presiden dan deretan lainnya yang kita anggap menjadi pemimpin bangsa, negara, bahkan dunia. Tapi menjadi seorang khalifah atau pemimpin itu melainkan kewajiban untuk kita semua yaitu diri kita sendiri, karena pada hakikatnya kita di ciptakan oleh Allah swt itu untuk menjadi seorang khalifah di muka bumi Allah ini, maka dari itu kita harus menjadi khalifah atau pemimpin untuk diri kita sendiri, ketika diri kita mampu mepimpin kepada diri kita sendiri maka insyaallah kita mampu memimpin semuanya dengan baik yang di baluti kemaslahatan.

Kuatkan tekad dan berazamlah “bahwa kita generasi muda mampu merubah dunia ini dengan baik dengan tajdid menuju integritas islami” dengan keyakinan dan semangat yang di landasi dan di baluti dengan landasan Lillahita ‘ala  maka inyaallah Allah mudahkan dan rebahkan kebenaran dan keberhasilan di depan mata kita. Yakinlah bahwa kejayaan di dunia hanya bias diraih dengan kemenangan. Pasar kehormatan akan selalu diwarnai dengan persaingan. Kehidupan adalah pertarungan. Dan kemuliaan hanya bias dicapai dengan tekad yang kuat. Maka kita sebagai generasi muda harus kuatkan tekad dan bakarlah api glora semangat itu jangan sampai melemah dan melemahkan diri kita.
“barang siapa yang memiliki tekad baja, jiwa yang teguh, semangat membara, dan kesabaran yang kuat, maka dialah sang pemenang”
Sebagai pemuda atau generasi muda umat islam kita harus mampu mengubah peradaban ini menjadi lebih baik lagi, karena saat ini islam sedang di goyahkan oleh bangsa bangsa asing yang masuk ke dalam agama islam ini, era globalisasi ini sangatlah kuat pengaruhnya bagi umat islam ini, sekarang bukan lagi perang yang menggunakan senjata keras atau alat-alat senjata lainnya (gozul hardi). Namun sekarang kita sedang di perangi oleh mereka melalui perang pemikiran (gozul fikri) dimana kebenaran seolah- olah salah dan sebaliknya kesalahan seolah- olah benar di hadpan kita, itu semua adalah rencana orang orang yahudi yang ingin membuat umat islam ini hancur karena mereka ingin menggenggam kekuasaannya di tangan mereka semuanya. 
Sehingga kita seolah- olah tidak di perangi, tapi pada kenyataanya saat ini kita di perangi oleh perang pemikiran (gozul fikri), dimana cara berpikir kita di bolak-balik dan di kecohkan oleh mereka, sehingga tidak sedikit moral anak remaja yang keliru dengan syari’at umat islam. Maka itu tugas untuk kita semua untuk memperbaiki kondisi itu,
Kita sebagai generasi muda harus melatih diri untuk menumbuhkan semangat yang mengelora yang menggebu-gebu untuk kejayaan umat islam ini, karena generasi muda itu masa yang sangat indah dan kuat di mana kejayaannya itu terkumpul, kekutan masih sangatlah kuat, maka kita harus mampu menumbuhkan semangat itu, untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik bahkan kita harus mampu menjadi pemimpin bagi dunia ini agar kita mampu memegang kejayaan tampa di ikut campurkan oelh mereka bangsa-bangsa asing yang ingin meluluh lantahkan umat islam ini. Maka kita sebagai generesi muda harus memiliki semangat yang kuat kareana orang yang menyia-nyiakan semangat dan menghabiskan umurnya dalam kebingungan dan kehampaan maka dia tidak akan menang dan tidak pula kalah namun ikan akan terus berdiam diri dan tenggelam dalam keterpurukan dan kegagalan.
Karena akal seorang mukmin tidak akan berhenti berfikir, penglihatnnya tidak pernah berhenti untuk mencari hikmah, lidahnya tidak pernah berhenti berdzikir, hatinya tidak pernah berhenti bersyukur, dan tekad dan semangatnya akan selalu membaja, begitu indah islam ini.
Jangan sampai kita terbuai dengan indahnya dunia, dan lezatnya kemaksiatan. Tapi kita harus terbuai akan janji-Nya Allah kelak di akhirat Allah sediakan syurga yang abadi yang di dalamnya tidak bias di gambarkan akan keindahan dan kenikmatannya,
Biasanya di masa muda ini banyak sekali godaan dan rintangan, karena tak sedikit anak muda lebih mementingkan kesenanganya di bandig kewajibannya dalam ajaran atau syariat islam itu tersendiri, mereka lupa akan tugasnya sehingga mereka lebih senang diam dalam kemaksiatan. Namun kita generasi muda umat islam harus menghindar dan membenteng diri dan hati kita dari perkara itu karena kelezatan kemaksiatan hanya akan dirasakan oleh mereka yang tenggelam dalam kelalian, adapun orang yang beriman tidak akan merasakannya karena harus mengalami tekanan berperang melawan pengetahuannya tentang dosa dan rasa takut terhadap hukuman yang akan Allah berikan.
Jadi,  kita harus mampu menjadi generasi muda yang akan menciptkan suatu pembaharuan demi pembaharuan, jangan sampai kita sebagai generasi muda lalai dan tenggelam dalam indahnya kemaksiatan karena di sinilah kehancuran akan terjadi. Kokoh kan niat kita untuk menjadi pemimpin dunia ini yang mampu merubah ke dalam integritas islami, sungguh indah rasanya jika semua sudah mampu terealisasikan.


Masa muda adalah masa kekuatan itu masih kokoh....
Maka gunakanlah dengan sebaika- baiknya




By;
_Dhea Arofatunnisa_